Rumah Adat Limas
wikimedia.org

5 Keunikan Dibalik Indahnya Rumah Adat Limas

Posted on

Indonesia mempunyai ragam jenis rumah adat dari berbagai penjuru Indonesia. Apalagi sudah nggak asing lagi dengan rumah adat khas Sumatera Selatan yang bernama rumah adat limas.

Rumah limas merupakan rumah adat yang berbentuk limas dan bertingkat seperti rumah panggung. Rumah adat ini berasal dari daerah Palembang, Sumatera Selatan.

Ukurannya cukup luas, bisa mencapai 400 sampai 1000 m persegi. Setiap lantai menunjukkan tingkat kedudukan anggota keluarga yang menempati rumah adat tersebut.

Sejarah Rumah Adat Limas

Sejarah Rumah Adat Limas
budayanesia.com

Rumah limas (rumah bari) adalah sebuah peninggalan kebudayaan dari Kerajaan Sriwijaya yang dikenal masyarakat sebagai rumah tradisional di zaman Kesultanan Palembang.

Rumah yang memiliki benda-benda bersejarah ini masih berdiri kokoh dan terpelihara dengan baik di kawasan Museum Balaputradewa Palembang Sumatera Selatan.

Bahkan rumah limas juga menjadi salah satu icon kota Palembang sebagai bentuk kearifan lokal yang masih bertahan sampai sekarang. Nama limas diambil dari bentuk atapnya yang mirip dengan piramida terpenggal atau limasan.

Selain keindahan dan kemegahan, rumah adat ini juga memiliki beberapa kegiatan dan tradisi yang sangat kental dengan nilai budaya sebagai pedoman hidup masyarakat setempat.

Menariknya lagi bentuk persegi panjang yang berdiri di atas tiang kayu mempunyai luas sekitar 1000 m. Di mana bagian dalamnya terdapat berbagai perlengkapan seperti tempat tidur dan beberapa peralatan pernikahan berupa timbang tangan calon pengantin dengan kitab suci.

Berdirinya rumah adat ini sudah cukup lama sekitar tahun 1830, meskipun begitu sekarang sudah menjadi salah satu pusat pariwisata yang banyak dikunjungi para wisatawan.

Artikel Menarik:  Makanan Penurun Kolesterol: Nikmati dengan Sehat dan Enak

Menurut sejarah, rumah adat ini dimiliki oleh seseorang berkebangsaan Arab bernama Pangeran Syarif Abdurrahman al-habsyi.

Rumah Limas semakin terkenal sejak dicetak di uang lembaran Rp 10.000 yang keluar di tahun 2006. Pada umumnya, orang Palembang sering menyebutnya dengan nama rumah bari yang berarti rumah Lama.

Keunikan Rumah Adat Limas

Keunikan Rumah Adat Limas
indonesiakaya.com

Rumah adat Sumatera Selatan ini bentuknya mirip seperti rumah panggung yang memiliki lima tingkat di dalamnya.

Setiap tingkatan tentu mempunyai filosofi yang mendalam sesuai dengan aspek geografi dan kepercayaan masyarakat setempat. Adapun beberapa keunikan yang dimiliki rumah limas, yaitu:

1. Ornamen yang Kaya Akan Makna

Di bagian atap rumah ada beberapa ornamen simbar yang bentuknya seperti tanduk dan melati. Bunga melati tersebut menggambarkan keagungan dan kerukunan, namun simbar dua tanduk melambangkan Adam dan Hawa.

Untuk simbar dengan tiga tanduk melambangkan matahari, bulan dan bintang. Kemudian simbar dengan empat tanduk menggambarkan sahabat nabi, sedangkan untuk simbar dengan lima tanduk menggambarkan rukun Islam.

Selain berfungsi sebagai ornamen, simbar juga berfungsi untuk menangkal petir.

2. Bentuk Rumah Adat Limas

Rumah adat ini dibangun dengan ukuran sekitar 15 x 30 m sampai 20 x 60 m.

Keunikannya bisa dilihat dari bangunan yang dihiasi dengan ukiran khas Palembang di bagian kusen, dinding ruang kamar dan jendela yang pastinya untuk mempercantik tampilan rumah.

Bahan utama yang digunakan untuk membangunnya yaitu kayu seru yang saat ini sudah sulit ditemukan.

Dengan kelangkaannya, kayu tersebut berfungsi untuk alas rumah, sebab masyarakat setempat percaya bahwa kayu seru nggak boleh diinjak atau dilangkahi.

Untuk bagian dinding, jendela, pintu dan lantainya dibuat dari kayu tembesu dengan karakteristik yang kokoh. 

3. Dibangun Menghadap Timur dan Barat

Rumah adat limas ini cuma dibangun menghadap ke dua arah saja, yakni timur dan barat. Bagian yang menghadap ke arah timur disebut dengan matoari edop.

Artikel Menarik:  Makanan Khas Amerika: Lezat dan Beragam

Dimana bagian arah matahari muncul ini menggambarkan awal mula kehidupan manusia. Sementara itu, bagian arah barat disebut matoari mati yakni arah matahari terbenam menggambarkan akhir dari kehidupan.

Kalau Anda mau membuat filosofi rumah Limas di rumah, maka dapat membangunnya dengan menghadap ke arah matahari terbit dan matahari terbenam.

4. Ukiran Sebagai Simbol Garis Keturunan

Selain diatas, rumah adat ini juga sudah dilengkapi dengan berbagai ukiran di sepanjang bangunan. Dimana, ukiran tersebut adalah simbol kedudukan dan garis keturunan pemilik rumah.

Motif dari ukiran rumah ini seperti motif guci, kulit kerang dan motif naga. Motif  tersebut adalah simbol pengaruh dari kebudayaan Tiongkok dengan budaya khas Palembang, Sumatera Selatan.

5. Dilengkapi Tiang Penyangga yang Tinggi

Rumah adat yang mirip seperti rumah panggung ini pastinya dilengkapi dengan tiang penyangga yang menopang bangunan. Tiang penyangga tersebut mempunyai ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 m dari permukaan tanah.

Biasanya beberapa bangunan rumah ini dibangun di sekitar area rawa dan sungai, jadi konsep dari rumah panggung tersebut bertujuan untuk menghindari air rawa atau sungai yang meluap.

Untuk memasukinya harus melewati tangga terlebih dahulu yang berada di bagian kanan dan kiri.

Ayo baca: Rumah Adat Joglo

Filosofi Tingkatan Rumah Adat Limas

Filosofi Tingkatan Rumah Adat Limas
pgimgs.com

Rumah limas memang memiliki cukup banyak filosofis yang mendalam. Dimana ada lima tingkat yang memiliki makna dan fungsinya masing-masing.

Lima tingkatan ruangan tersebut diatur dengan menggunakan filosofi Kekijing dan setiap ruangannya diatur berdasarkan penghuninya, seperti usia, pangkat, jenis kelamin, martabat, bakat dan pangkat.

Adapun filosofi tingkatan rumah adat limas, di antaranya yaitu:

1. Tingkat pertama (Pagar Tenggalung)

Tingkat pertama adalah ruangan terhampar luas tanpa menggunakan dinding pembatas. Tingkatan ini berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu yang datang saat acara adat.

Artikel Menarik:  Kerajaan Tarumanegara: Sejarah dan Peninggalannya

Keunikannya lagi, orang luar nggak dapat melihat aktivitas di dalam ruangan, namun dari dalam dapat melihat suasana  yang ada di luar. Selain itu terdapat lawang kipas atau pintu yang kalau dibuka membentuk langit-langit ruangan.

2. Tingkat Kedua (Jogan Tingkat)

Tingkatan kedua yaitu tempat berkumpul yang diperuntukkan untuk anggota keluarga pemilik rumah yang berjenis kelamin laki-laki.

Jika masuk ke dalam atau pada Kekijing ketiga, maka mempunyai banyak privasi daripada ruangan sebelumnya. Dimana, posisi lantainya lebih tinggi dan bersekat.

3. Tingkat Ketiga (Kekijing)

Ruangan tingkat tiga ini biasanya digunakan oleh para tamu undangan khusus saat pemilik rumah sedang mengadakan hajat. Namun di hari biasa, ruangan ini hanya digunakan sebagai tempat tidur atau untuk menyimpan barang-barang.

Kalau pemilik rumah ini memiliki anak gadis yang sudah dewasa, maka ruangan tersebut dibuat kamar untuk anak gadis. Namun jika anak tersebut sudah menikah, maka kamar itu pun dijadikan sebagai kamar pengantin. 

4. Tingkat keempat

Ruangan khusus untuk orang-orang terhormat dan mempunyai ikatan darah dengan pemilik rumah saja yang dipersilahkan untuk masuk. Misalnya seperti Dapunta atau datuk, tamu undangan yang dituakan dan pemilik rumah.

5. Tingkat Kelima

Tingkat kelima atau sering disebut dengan Gegajah. Ruangan inilah yang paling luas dari ruangan lainnya.

Bahkan, ruangan ini terbilang istimewa dan lebih bersifat privasi, sebab hanya boleh dimasuki oleh orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam keluarga maupun masyarakat.

Di dalam ruangan tersebut ada undakan lantai yang berfungsi untuk bermusyawarah atau yang disebut dengan Amben. Namun bisa juga dijadikan kamar pengantin kalau pemilik rumah sedang mengadakan pernikahan.

Saat ini, Rumah adat Limas memang sudah jarang dibangun untuk tempat tinggal. Walaupun begitu, bukan berarti sudah nggak ada lagi rumah limas di daerah Kalimantan.

Setelah mengenal beberapa keunikan dan filosofi di atas, kita sebagai generasi bangsa harus menjaga dan mengembangkan rumah adat yang ada di Indonesia, sehingga masih terjaga kelestariannya.