Tengahviral.com, Jakarta – Fenomena simbol perlawanan kembali mencuat di ruang digital Indonesia. Belakangan, warganet ramai memperbincangkan istilah ACAB dan 1312 yang banyak muncul di berbagai unggahan media sosial, khususnya setelah sejumlah aksi protes melibatkan aparat mendapat sorotan publik.
Munculnya istilah ini di lini massa menandakan bahwa simbol perlawanan global terhadap institusi kepolisian kini mulai diadopsi secara lokal oleh masyarakat Indonesia. Bagi sebagian orang, penggunaan ACAB dan 1312 dianggap sebagai bentuk solidaritas sekaligus ekspresi ketidakpuasan terhadap tindakan aparat.
Namun, keberadaan istilah ini juga menimbulkan kontroversi. Ada yang menilai ACAB merupakan simbol kebencian, sementara sebagian lain berpendapat istilah tersebut ditujukan pada sistem represif, bukan kepada individu polisi.
Asal Usul Istilah ACAB dan 1312
Istilah ACAB, singkatan dari All Cops Are Bastards, pertama kali muncul di Inggris pada awal abad ke-20. Kala itu, slogan ini dipakai kelompok buruh yang tengah berseteru dengan aparat.
Pada era 1940-an, tulisan ACAB kerap ditemui di pakaian narapidana. Popularitasnya meningkat pada 1970–1980-an ketika subkultur punk dan skinhead mengadopsinya sebagai simbol perlawanan. Bahkan, grup musik punk The 4-Skins merilis lagu berjudul A.C.A.B. pada 1982.
Sementara itu, 1312 merupakan bentuk numerik dari huruf A-C-A-B (A=1, C=3, A=1, B=2). Deretan angka ini digunakan untuk menghindari sensor di ruang publik maupun platform digital, tetapi tetap menyampaikan makna serupa: kritik terhadap institusi kepolisian.
Simbol yang Menuai Kontroversi
Tidak semua negara memandang ACAB dan 1312 sebatas simbol protes. Di sejumlah negara Eropa, penggunaan tulisan ACAB bahkan dapat berujung pada denda karena dianggap menghina aparat kepolisian.
Di Amerika Serikat, Anti-Defamation League (ADL) memasukkan ACAB ke dalam daftar simbol kebencian. Meski demikian, banyak kelompok aktivis menekankan bahwa istilah ini lebih ditujukan pada sistem atau budaya represif institusi, bukan pada aparat sebagai individu.
Tren ACAB dan 1312 di Indonesia
Fenomena penggunaan ACAB dan 1312 kini juga tampak jelas di Indonesia. Pasca peristiwa kematian Affan Kurniawan, ribuan unggahan bertagar #1312 beredar di platform X (dulu Twitter). Unggahan tersebut banyak disertai kritik tajam terhadap tindakan aparat dalam menangani aksi protes.
Situasi ini menunjukkan bahwa simbol global seperti ACAB dan 1312 dapat menyeberangi batas negara, lalu menjadi bahasa solidaritas dan bentuk kemarahan kolektif masyarakat.
Munculnya istilah ACAB dan 1312 di ruang digital Indonesia menjadi fenomena sosial yang menarik untuk dicermati. Terlepas dari pro-kontra yang menyertainya, simbol ini memperlihatkan bagaimana ekspresi perlawanan global mampu diadopsi masyarakat lokal untuk menyuarakan aspirasi, kritik, maupun solidaritas.(*)