Rumah Adat Karo
lpmdinamika.co

4 Fakta Unik Rumah Adat Karo di Balik Keindahannya

Posted on

Beberapa rumah adat yang ada di Indonesia tentu mempunyai bentuk khusus yang dapat membedakan di setiap daerahnya, seperti di wilayah karo.

Hal tersebut menandakan bahwa rumah adat dibangun bukan cuma mengikuti iklim atau cuaca di daerah saja, namun lebih ke pemahaman dan pengetahuan budaya dari masyarakatnya.

Nah, jadi itulah mengapa rumah adat dikatakan sebagai refleksi dari kebudayaan masyarakat. Salah satu rumah adat yang memiliki kriteria tersebut yaitu rumah adat Karo.

Biasanya masyarakat Karo menyebutnya dengan nama Siwaluh jabu artinya, rumah adat tersebut dihuni oleh delapan keluarga dengan peran yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya simak ulasan di bawah ini!

Sejarah Rumah Adat Karo

Sejarah Rumah Adat Karo
wordpress.com

Provinsi Sumatera Utara memiliki salah satu rumah adat Karo yang sangat terkenal atau disebut dengan nama Siwaluh Jabu. Keberadaan rumah adat ini pastinya nggak terlepas dari bentuknya Kuta (kampung) yang terletak di tanah Karo.

Perkembangan wilayah ini diawali dengan Barung dimana cuma memiliki 1 rumah sederhana saja, lalu berkembang menjadi Talun yang memiliki 3 rumah di dalamnya.

Setelah itu, berkembang menjadi Kuta yang terdiri dari 5 rumah dan yang terakhir yaitu Kesain. Dimana kalau dikembangkan lagi akan menjadi lebih besar.

Siwaluh Jabu diambil dari bahasa Karo, yaitu “Waluh” berarti angka dan “Jabu” berarti rumah. Jadi bisa disimpulkan bahwa Siwaluh Jabu merupakan rumah yang memiliki 8 ruangan dan diduduki oleh 8 keluarga.

Karena daya tampungnya cukup banyak, jadi dapat dipastikan bahwa bangunan rumah ini sangat besar. Kalau dibandingkan dengan rumah adat yang adat Sumatera utara, maka rumah adat inilah yang paling besar. 

Sementara itu, penempatan rumah adat ini nantinya akan diatur oleh para pemangku adat setempat. Pembagiannya terdiri dari Jabu Jahe atau Jabu Hilir, lalu Jabu Julu dan terakhir yaitu Jabu Hulu.

Artikel Menarik:  Makanan Khas Demak: Nikmatnya Perpaduan Rasa dan Budaya

Untuk bagian Jabu Jahe tersebut akan dipecah menjadi Jabu rumah Sendipar ujung kayu dan Jabu ujung kayu. Jadi keluarga yang dianggap paling utama terletak di sisi tengah, namun untuk keluarga yang lainnya berada di sisi kanan dan kiri nya.

Tak hanya itu saja, peran yang diambil dari masing-masing keluarga pun ditentukan para pemangku adat,. Mulai dari yang akan menjadi pemimpin, wakil pemimpin, solution maker, pengatur kebutuhan rumah dan lain sebagainya.

Fakta Unik Rumah Adat Karo

Fakta Rumah Adat Karo
wikimedia.org

Adapun fakta unik yang menarik di dalam rumah adat ini, yaitu:

1. Konsep Struktur Bangunan 

Konsep Struktur Bangunan
umah123.com

Pembagian anatomi rumah adat Karo ini menjelaskan tentang tempat yang disucikan, tempat keduniawian, tempat bermusyawarah dan tempat kejahatan.

Bentuknya sangat megah dengan ukuran 17 x 12 m² dan tingginya 12 m² serta diberi tanduk. Dimana struktur bangunannya terbagi menjadi 6 bagian, yaitu:

  • Tiang

Untuk memabngunnya menggunakan enam belas tiang yang disandarkan di batu-batu yang berukuran besar. Batu-batu tersebut biasanya didapatkan dari sungai atau gunung. 

Terdapat 8 tiang yang digunakan untuk penyangga atap dan lantai, kemudian 8 tiang lainnya digunakan sebagai tempat untuk penyangga lantai.

  • Dinding

Dinding rumah adat inipun digunakan untuk menunjang atap rumah. Dimana ada pintu masuk dan terdapat jendela yang dipasang di atas dinding atau di atas lingkaran balok.

  • Pintu Masuk

Di bagian kedua porosnya, rumah adat ini didirikan dalam bentuk yang simetris. Karena pintu masuk yang berada di kedua sisi rumah terlihat hampir sama. Sehingga sulit untuk membedakan pintu utama.

Sementara itu, pintu rumah adat ini juga memiliki ukuran yang kecil dan pendek, yang mana dibuat dengan daun pintu yang ganda.

Maksud ukuran pintu yang kecil tersebut yaitu setiap orang yang masuk ke dalam rumah adat harus menunduk, sebab disesuaikan dengan adab kesopanan dalam tradisi Karo.

Artikel Menarik:  Nikmati 10 Makanan Ringan Kekinian yang Gurih di Setiap Gigitan

Bukan cuma itu saja, hiasan di bagian kusennya menggunakan ornamen yang sedikit rumit. Dimana ornamen tersebut dibuat menggunakan busur dan anak panah.

  • Jendela

Rumah adat ini juga dilengkapi dengan 8 buah jendela yang masing-masing jabu memiliki 1 jendela. Kalau dilihat di bagian kusennya, jendela ini memiliki ukiran yang sangat rumit. Dimana terbuat dari susunan busur dan anak panah.

  • Perapian

Dalam Siwalan Kabuh dilengkapi dengan perapian yang berfungsi untuk kegiatan memasak bersama. Dimana terdapat 4 perapian yang dengan masing-masing digunakan oleh 2 keluarga.

  • Atap

Atap rumah adat ini terbuat dari bahan bambu dan pohon aren. Dimana kayu aren terletak di bagian bawah kemudian dilapisi anyaman bambu di bagian atasnya.

Di bagian luar, atap ini dilengkapi dengan lapisan ijuk hitam yang sangat tebal dan diikatkan di kerangkanya. Lalu untuk bagian dari bimbingannya dibuat dari jerami kering yang memiliki ketebalan 15 cm sampai 20 cm.

Untuk menahan hujan deras, ada beberapa tumbuhan yang akan ditanam di sisi terendah yaitu berada di pangkalnya hingga menjalar di semua sisi dinding. Sebagai hiasan, di bagian ujung atap yang menonjol akan dipasang tikar berbahan bambu.

Di bagian atap itulah dapat diketahui tentang status sosial para penghuninya. Untuk mengetahuinya dengan cara melihat ukiran yang cukup besar dan susunan atap yang sangat rumit.

2. Dihuni Sampai 8 Keluarga

Rumah adat Karo (Siwaluh Jabu) di duduki oleh 8 keluarga yang masing-masing keluarga tentu mempunyai peran penting dalam rumah tersebut. Di dalamnya rumahnya ada ruangan besar dan nggak memiliki mempunyai kamar-kamar.

Namun untuk penempatan keluarga dalam rumah ini akan ditentukan oleh ketua adat Karo. Nggak ada sekatan satu berkonsep terbuka, tetapi pembagian tetap ada hanya saja dibatasi dengan garis-garis adat istiadat yang tak terlihat.

Artikel Menarik:  Tari Gandrung, Menunjukkan Eksistensi Masyarakat Osing

Bahkan, masing-masing ruangan tersebut memiliki nama dan siapa yang harus menempati ruangan tersebut.

Artikel terkait: Alat Musik Harpa

3. Penentuan Pembangunan 

Sebelum membangun, biasanya masyarakat Karo akan mengadakan musyawarah dengan teman satu rumah tentang tempat dan hal yang lainnya.

Bahkan untuk meratakan tanah dan waktu membersihkannya pun sudah ditentukan oleh guru maupun dukun. Dimana tujuannya untuk mendapatkan hari yang baik.

Hal tersebut terlihat mulai dari penentuan tapak (lahan), memilih kayu di hutan, hari baik pendirian rumah, memasang atap hingga memasuki rumah.

Semuanya dilakukan bukan sembarangan, namun melalui upacara ritual dengan menggunakan kerbau sebagai korbannya. Masyarakat Karo percaya bahwa upacara tersebut menunjukkan kekuasaan yang melebihi kekuatan manusia.

4. Material Pembangunan Rumah Adat Karo

Pada umumnya, bahan yang digunakan untuk membangun Siwaluh Jabuh diambil dari alam. Misalnya pada bagian dinding, lantai dan tiang terbuat dari kayu dan bambu yang didapatkan dari hutan.

Biasanya kayu yang dipilih untuk membuatnya nggak boleh sembarangan, namun kayu yang akan digunakan seperti kayu sebernik yang dipercaya bisa memudahkan datangnya rezeki.

Kayu ndrasi yang dipercaya bisa menjauhkan para penghuni rumah dari segala macam bahaya maupun penyakit. Kemudian kayu bertuah dipercaya bisa mendatangkan tuah dan kesejahteraan.

Sementara itu, bagian atap nya menggunakan ijuk yang di kering terlebih dahulu. Ijuk tersebut bisa memberikan banyak manfaat yang bagus untuk para penghuninya.

Dimana didalam ruangan nggak akan terasa panas, bahkan ijuk tersebut sangat kuat saat turunnya hujan. Untuk menyambungkan semua bagian-bagian tersebut nggak menggunakan paku, melainkan diikat dan dililit menggunakan ijuk.

Rumah adat Karo yang masih dijaga dan dilestarikan sampai sekarang yaitu Siwaluh jabu dan rumah kete. Sebab rumah adat termasuk warisan budaya yang berfungsi sebagai simbol pengatur tingkah laku maupun lingkungan alamnya. Terima kasih atas kunjungan Anda.