Homo Wajakensis: Sejarah Penemuan dan Ciri-cirinya

Sudah tahu belum sejarah penemuan Homo Wajakensis? Yuk, cari tahu jawabannya di sini dan pelajari ciri-cirinya!

Kamu tentu sudah tidak asing dengan Homo Wajakensis, bukan? Manusia purba yang juga disebut sebagai manusia Wajak ini dianggap sebagai jenis manusia purba dengan evolusi hampir sempurna. Pasalnya, manusia purba jenis genus homo ini dapat bertahan hidup dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh manusia purba jenis lainnya. Jejak manusia Wajak dapat ditemukan di Museum Wajakensis, Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Tentang Homo Wajakensis

Tentang Homo Wajakensis
iNews

Homo Wajakensis merupakan manusia purba yang umurnya paling muda. Usia fosilnya sendiri diperkirakan telah ada sejak tahun 15000 hingga 40000 sebelum masehi. Berbeda dengan jenis Homo (manusia) lainnya, manusia Wajak memiliki volume otak yang besar. Bahkan, hampir menyerupai volume otak yang dapat disejajarkan dengan manusia modern di akhir masa Plestosen.

Sejarah Penemuan

Sejarah Penemuan
pixabay.com

Pada mulanya, manusia Wajak ditemukan pada tahun 1889 di sebuah ceruk yang terletak dekat Tulungagung, tepatnya di lereng pegunungan Karst di barat laut Campudarat oleh Van Riestchoten.

Tak lama  berselang, sekitar tahun 1890, Eugene Dubois menemukan fosil kedua kemudian melakukan penelitian untuk mengungkap sejarah manusia Wajak. Dari hasil penelitian, Eugeneu Dubois mengambil kesimpulan bahwa manusia Wajak diperkirakan hidup sekitar 40.000 hingga 25.000 tahun lalu dan memiliki bentuk kerangka tengkorak menyerupai kera dengan badan tegak layaknya manusia.

Kendati ditemukan di Indonesia, manusia Wajak ini justru memiliki persamaan dengan suku Aborigin. Eugene Dubois menduga bahwa manusia Wajak bersilsilah langsung dengan bangsa Australia, ras Australoide. Ras Austaloide sendiri telah menyebar hingga ke bagian timur dan bagian barat benua Australia.

Beberapa bagian fosil manusia Wajak, dari rahang atas hingga bawah turut memperkuat bukti bahwa manusia purba ini memiliki kaitan kuat dengan ras Australoide. Tak hanya itu saja, fosil yang sama dengan manusia Wajak ini juga ditemukan di wilayah Keilor di Iran, Talga di Australia, Palawan di Filipina, Niah di Serawak Malaysia, dan fosil-fosil Australoid  lainnya di Cina Selatan dan Australia Selatan.

Pada fosil perempuan manusia Wajak memiliki ciri muka datar dan lebar, bagian mulut sedikit menonjol, dan akar hidung lebar. Dahinya sedikit miring dengan busur kening di atas mata.

Sementara fosil manusia Wajak laki-laki memiliki otot yang tampak jelas dengan rahang bawah dan gigi berukuran besar. Ketika mengatup, muka bagian atas akan mengenai muka bagian bawah. Dari hasil penelitian tulang paha, dapat diperkirakan  bahwa tubuh manusia purba sekitar 173 cm.

Perbedaan Homo Wajakensis dengan Homo Soloensis

Perbedaan Homo Wajakensis dengan Homo Soloensis
satujam.com

Lantaran fisiknya yang hampir sama dengan manusia masa kini, para ahli sering mempersamakan manusia Wajak dengan Homo Soloensis. Faktanya, manusia Wajak dengan Homo Soloensis memiliki ciri yang berbeda.

Agar lebih jelas, terdapat beberapa ciri dari Homo Wajakensis yang harus kamu pahami  untuk membedakannya dari jenis manusia purba lain, terutama Homo Soloensis.

  • Bermuka datar dan lebar.
  • Memiliki hidung yang lebar dan bagian mulut yang lebih menonjol.
  • Mempunyai dahi yang agak miring dan di bagian atas mata terdapat busur dahi yang terlihat nyata.
  • Memiliki pipi yang menonjol ke samping.
  • Kapasitas otak lebih dari 1300 cc dengan volume otak sekitar1350 hingga 1450 cc.
  • Berat badan manusia Wajak sekitar 30 hingga 150 kg.
  • Mempunyai tinggi badan sekitar 130 hingga 210 cm.
  • Jarak antara mulut dan hidung masih jauh.
  • Mempunyai perawakan seperti kera dengan badan tegap.
  • Cara berjalan lebih tegak.
  • Tulang dan otot lebih besar.

Itulah sekilas tentang sejarah penemuan Homo Wajakensis yang perlu kamu ketahui. Yuk, bagikan artikel ini agar lebih bermanfaat!

Leave a Comment